Langsung ke konten utama

Kemana Mahasiswa Sekarang ? Apatis, Hedonis dan Pragmatis?




Selain pada masa itu, pergerakan mahasiswa telah melahirkan peristiwa sejarah yang sangat dikenang. Di antaranya ada peristiwa Malari (Malapetaka 15 Januari 1974) dan NKK/BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kampus) pada tahun 1978 di ITB sebagai tindakan represif penguasa saat itu terhadap diterbitkannya ‘Buku Putih Perjuangan Mahasiswa Indonesia’ yang terkenal dengan nama “Gerakan Anti kebodohan”. Dari semua akumulasi perjuangan generasi muda intelekual Indonesia telah banyak agenda yang telah dihasilkan dimulai dari masa kebangkitan nasional yang berhasil menyadarkan rakyat bahwa Indonesia harus bangkit dan melawan terhadap segala bentuk kolonialisasi yang ada. Hasil dari masa ini adalah berdirinya Boedi Oetomo sebagai organisasi formal pertama yang didirikan oleh kaum muda pribumi yang intelek. Pada masa inisiasi persatuan (1928) telah melahirkan sumpah pemuda yang intinya menginginkan adanya komponen-komponen yang dapat membentuk sebuah bangsa terwujud. Tahun 1945 mahasiswa selain bertugas untuk menuntut ilmu, mereka juga disadarkan untuk peduli dalam mewujudkan kemerdekaan bangsa. Banyak mahasiswa yang terlibat pada masa ini, dan hasil yang diperoleh adalah sangat fenomenal (dan mahasiswa saat itu mengambil peran yang cukup besar juga), yaitu kemerdekaan Indonesia. Pada tahun 1966 lahirlah Tritura (Tri Tuntutan Rakyat) di mana di sana mahasiswalah yang menjadi pelopor. Puncaknya dan peristiwa yang paling fenomenal adalah pada tahun 1998. Generasi inilah yang berani menggulirkan semangat reformasi. Pada masa ini marak terjadi aksi-aksi penumbangan rezim orde baru. Mahasiswa menjadi penyeimbang pemerintah yang represif, diktator dan bertindak semena-mena. Ada kebanggan tersendiri, bukan soal menurunkan diktator Soeharto; tetapi bagaimana perjungan akan keadilan dan kesejahteraan itu bisa mahasiswa sumbangkan kepada negara tercinta ini. (noviato,2012)
            Secara tegas sejarah mencatat begitu besar pengaruh pemikiran dan gagasan para mahasiswa kala itu. Bagaimana mereka berfikir kritis, idealis independen dan yang terpenting adalah mewujudkan semua itu dalam sebuah gerakan. Mahasiswa kala itu tau betul akan tanggung jawab mereka kepada negara. Negara membutuhkan sumbangan dan uluran tangan mereka untuk bangkit. Mereka pun menjawab apa yang bisa diberikan untuk negeri terinta ini, seperti kata John F. Kenedy “Don’t ask what your country can do for you, but ask what you can do for your country” itu yang mereka perbuat kala itu. Aksi turun ke jalan menentang ketidak adilan meski mereka sadar, aksi mereka tidak akan berdampak langsung dan signifikan pada polemik bangsa ini, karena mahasiswa hanyalah puingan kecil bagian dari berbagai entitas pembangun bangsa. Sementara masih banyak organ-organ yang harus mereka bangkitkan, sedangkan tangan mereka juga tidak cukup panjang untuk menjamah hati para elit negeri. Maka mereka mengambil posisi sebagai penggerak dan stimulus. Berpanas-panas ria, berbusana dalam basahan hujan, berteriak dendangkan mimpi-mimpi hingga habiskan keringat dari tubuh, hanya untuk mendesak anasir-anasir elit yang bersangkutan serta menggugah para pengguna jalan dan rakyat yang menjadi saksi yang melihat perjuangan mereka melalui berbagai media. Mereka berdiri tegar dalam sebuah pengharapan agar akumulasi dari desakan-desakan itu bisa membersihkan kotoran-kotoran di telinga para aristokrat dan membangunkan para jelata yang lama tertidur pulas. Semua itu karena secercah harapan mereka yang tak pernah surut sebagaimana panji-panji mereka yang tak luntur diguyur hujan dan warna merah pada sangsaka yang mereka kibarkan tidak pudar didera terik mentari. (kholiq, 2009)




Poros cakrawala bangsa bernama mahasiswa itu kini kian rapuh. Namun sungguh tidak layak menggunakan logika generalisasi dalam memandang mereka. Masih ada segelintir mahasiswa yang masih teguh dalam mencengkeram idealismenya. Mereka sadar bahwa integritas adalah hampa tanpa integrasi, sehingga berusaha untuk memenuhi kewajiban dan kebutuhan di segala aspek lini kehidupan pribadi, bermasyarakat dan bernegara secara seimbang dan terpadu. Mereka sadar akan eksistensi dirinya bukan untuk mendapat kedudukan, materi, popularitas dan egomania atas kesuksesan pribadi, sehingga berusaha mencapai segala cita-cita pribadinya namun tetap kontributif bagi kebangkitan negerinya. Mereka giat mengikuti pembelajaran akademis, namun juga getol mengikuti kegiatan-kegiatan organisasi; menghidupkan organisasi kemahasiswaan dengan kegiatan-kegiatan didaktis-progresif, sehingga organisasi mereka bukan sekedar sebagai event organizer; sadar bahwa lingkungan mereka bukan hanya dunia kampus, namun bumi Indonesia, sehingga peduli dengan wacana nasional yang berhubungan dengan kerakyatan namun tetap independen; tahu persis kapan harus mengkaji wacana, kapan harus melakukan branstorming dan kapan harus turun ke jalan; tidak terkekang oleh arus deras yang cenderung dimanipulasi oleh anasir kepentingan pragmatis dan dipenuhi kendali konspirasi, namun justru menentukan arah arus dan merekayasanya demi perubahan ke arah kebaikan. Sayangnya, mahasiswa model ini sudah sangat langka di hamparan Indonesia (rumahcerdas, 2014).







Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sekilas Mengenal Sosok Tan Malaka

Sultan Ibrahim atau yang lebih dikenal oleh khalayak ramai dengan sebutan Tan Malaka. Tan Malaka merupakan Pahlawan Nasional yang lahir di Nagari Pandan Gadang,Suliki, Sumatera Barat tanggal 2 Juni 1897, ia wafat di Kediri Jawa Timur, 21Februari 1949 pada usia 51 tahun. Semasa hidupnya ia merupakan seorang aktivis dan pejuang pergerakan kemerdekaan yang terkenal gigih memperjuangkan kemerdekaan ndonesia. Beliau merupak an seorang tokoh aktivis pejuang nasionalis Indonesia dan merupakan pemimpin komunis indonesia, serta politisi yang mendirikan Partai Murba. Pejuang yang militan, radikal dan revolusioner ini banyak melahirkan pemikiran-pemikiran yang berbobot dan berperan besar dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Tan malaka dikenal sebagai tokoh revolusioner yang legendaris namun pemerintah ketika itu menganggap dirinya sebagai pemberontak karena tindakanya yang dianggap ingin menggulingkan pemerintahan yang berkuasa. Dia merupakan sosok yang kukuh mengkritik ter...

HAK WARIS ANAK ANGKAT, ANAK KANDUNG dan ANAK DILUAR NIKAH

HAK WARIS ANAK ANGKAT, ANAK KANDUNGdan ANAK DILUAR NIKAH Hak waris adalah hak seseorang untuk mendapatkan harta milik pewaris. Seseorang yang mendapat hak waris ini disebut ahli waris. Adapun perihal waris mewaris diatur dalam hukum waris. Hukum waris ( erfrecht ) yaitu seperangkat norma atau   aturan yang mengatur mengenai berpindahnya atau beralihnya hak dan kewajiban ( harta kekayaan ) dari orang yang   meninggaldunia ( pewaris ) kepada orang yang masih hidup ( ahli waris) yang berhak menerimanya. Ataudengan kata lain, hukum waris yaitu peraturan yang mengatur perpindahan harta kekayaan orangyang meninggal dunia kepada satu atau beberapa orang lain. Menurut Mr. A. Pitlo, hukum waris yaitu suatu rangkaian ket entuan – ketentuan, di mana, berhubung dengan meninggalnya seorang, akibat- akibatnya di dalam bidang kebendaan, diatur, yaitu: akibat dari beralihnya harta peninggalan dari seorang yang meninggal, kepada ahli waris, baik di dalam hubungannya...

Filsafat Pancasila hakikat nilainya bersifat abstrak, umum, universal, dan absolut

FilsafatPancasila hakikat nilainya bersifat abstrak, umum, universal, dan absolut Berdasarkan kausa materialis, nilai pancasila bersumber dan digali dari   nilai-nilai luhur kepribadian bangsa Indonesia yang kemudian dikristalisai dan disepakati oleh para pendiri bangsa sebagai suatu kesepakatan fundamental bagi dasar kehidupan bangsa. Menurut Notonegoro kausa materialis atau bahan dari pancasila adalah bangsa Indonesia sendiri, yaitu terdapat dalam adat kebiasaan, kebudayaan dan agama. Setelah indonesia merdeka dan pancasila diresmikan menjadi dasar filsafat negara, ditambah lagi dengan unsur kenegaraan (Notonegoro, 1975 dalam Suyahmo, 2014:124). Mengenainilai abstrak, umum, universal, dan absolut yang ada dalam pancasila memilikipengertian sebagai berikut: 1.      Isinya sedikit tetapi luas cangkupanya tak terbatas, meliputi segala hal dan keadaan yang terdapat pada bangsa dan negara Indonesia dalam jangka waktu yang tak terbatas. 2.   ...